Home/
SuperTim vs Microsoft Planner: Dari Ekosistem Office ke Platform KPI Terintegrasi
Komparasi Produk24 Februari 20268 min read

SuperTim vs Microsoft Planner: Dari Ekosistem Office ke Platform KPI Terintegrasi

SuperTim vs Microsoft Planner: Dari Ekosistem Office ke Platform KPI Terintegrasi

TL;DR (Singkatnya)

Microsoft Planner adalah task management tool yang solid untuk tim yang sudah ada di ekosistem Microsoft 365. Namun tanpa KPI tracking, check-in tim, AI coach, dan dukungan bahasa Indonesia, Planner tidak dapat menjawab pertanyaan bisnis yang paling penting. SuperTim hadir sebagai solusi yang lebih holistik, bahkan untuk tim yang tidak pakai Microsoft 365.

Jika bisnis Anda sudah berlangganan Microsoft 365 (dulu Office 365), Anda sudah punya akses ke Microsoft Planner secara gratis. Ini seringkali menjadi alasan pertama seseorang mencoba Planner: "Kan sudah include, kenapa tidak dipakai?"

Logika ini masuk akal. Tapi sebelum memutuskan Planner cukup untuk manajemen tim Anda, ada beberapa hal penting yang perlu Anda evaluasi.

Artikel ini membedah kelebihan dan keterbatasan Microsoft Planner secara jujur, dan kapan SuperTim adalah pilihan yang lebih tepat — bahkan untuk tim yang sudah deep di ekosistem Microsoft.

Hitung Metrik Bisnis Anda Secara Otomatis

Gunakan kalkulator gratis kami untuk menghitung Burn Rate, BEP, atau KPI karyawan tanpa rumus rumit.

Lihat Alat Gratis SuperTim

Untuk perbandingan tools manajemen lainnya, baca juga SuperTim vs Monday.com dan SuperTim vs Notion.

Apa Itu Microsoft Planner?

Microsoft Planner adalah aplikasi task management yang terintegrasi dalam ekosistem Microsoft 365. Konsepnya sederhana: Bucket → Task → Checklist, dengan tampilan kanban board yang bisa dilihat per plan atau per anggota tim.

Planner juga terintegrasi dengan Microsoft Teams, To Do, dan SharePoint — menjadikannya bagian dari ekosistem produktivitas Microsoft yang lebih besar.

Kelebihan Microsoft Planner

  • Gratis untuk pengguna Microsoft 365 — tidak ada biaya tambahan
  • Integrasi mulus dengan Teams — task Planner bisa dilihat langsung di Teams
  • Familiar untuk pengguna Office — UI yang konsisten dengan produk Microsoft lain
  • Mudah dipelajari — tidak ada konsep yang kompleks
  • To Do integration — task personal bisa digabungkan dengan task tim

Keterbatasan Microsoft Planner

1. Fitur yang Sangat Terbatas

Planner adalah tools yang basic — bahkan lebih basic dari Trello. Tidak ada timeline/Gantt, tidak ada laporan kinerja yang berarti, tidak ada workload view, dan tidak ada dependencies antar task.

Ingin Belajar Lebih Banyak?

Jelajahi panduan lengkap kami tentang OKR, KPI, dan manajemen tim modern.

Baca Artikel Lainnya

Fitur yang dianggap "basic" oleh tools lain seperti custom fields, recurring tasks, atau time tracking semua tidak ada di Planner standard.

2. Tidak Ada KPI atau Goal Tracking

Seperti mayoritas task manager di daftar ini, Planner tidak punya modul KPI. Anda tidak bisa track apakah tim on-track terhadap target bisnis bulan ini. Laporan kinerja individual juga tidak tersedia.

3. Tidak Ada Check-in atau Wellbeing Feature

Planner murni adalah task list dengan tampilan kanban. Tidak ada fitur untuk monitoring kondisi tim — check-in harian, mood tracking, atau 1:1 notes.

4. Terkunci di Ekosistem Microsoft

Planner sangat powerful hanya jika tim Anda 100% menggunakan Microsoft 365. Jika ada anggota tim yang pakai Google Workspace, atau klien yang butuh akses ke project tanpa akun Microsoft, Planner langsung menjadi hambatan.

5. Plan Semakin Kompleks (dan Mahal) untuk Fitur Lanjutan

Microsoft kini menggabungkan Planner dengan Project for the Web dan Tasks menjadi "Microsoft Planner baru" (kadang disebut "Planner Premium"). Fitur lanjutan membutuhkan lisensi Project Plan 1 mulai dari $10/user/bulan — dibayar terpisah dari Microsoft 365.

💡 Insight dari Tim SuperTim: Banyak bisnis Indonesia yang pakai Planner hanya karena "sudah include di Microsoft 365" — bukan karena itu tools terbaik. "Gratis" bukan selalu berarti "tepat". Jika Planner tidak bisa menjawab pertanyaan KPI dan tidak bisa dipakai oleh semua anggota tim tanpa akun Microsoft, biaya riil-nya bisa lebih tinggi dari yang Anda kira. Baca juga kapan harus berhenti menggunakan Excel untuk proyek — prinsipnya sama.

SuperTim vs Microsoft Planner: Perbandingan Langsung

KriteriaSuperTimMicrosoft Planner
HargaRp 0–1.490.000/bulanGratis (dengan M365) atau $10+/user
Tanpa M365 License✅ Bisa❌ Harus punya M365
Bahasa Indonesia✅ Penuh❌ Inggris
KPI Terintegrasi✅ Built-in❌ Tidak ada
Daily Check-in✅ Built-in❌ Tidak ada
AI Coach Bisnis✅ Ada⚠️ Copilot (M365 premium)
Goal Tracking✅ Ada❌ Tidak ada
Laporan Kinerja✅ Otomatis❌ Sangat terbatas
Timeline / Gantt⚠️ Roadmap⚠️ Project Plan 1 saja ($10+)
Recurring Tasks✅ Ada❌ Tidak ada di Planner standard
Custom Fields✅ Ada❌ Tidak ada di Planner standard
Kanban Board✅ Ada✅ Ada
Teams Integration❌ Tidak ada✅ Native
Mobile App⚠️ Roadmap✅ Ada
Akses Tanpa Login M365✅ Ya❌ Butuh akun Microsoft
Support Bahasa Indonesia✅ WhatsApp + Email❌ Tidak ada

Kapan Microsoft Planner Masih Relevan?

Planner adalah pilihan yang masuk akal jika:

  • Tim Anda 100% menggunakan Microsoft 365 dan tidak ada anggota atau klien di luar ekosistem ini
  • Anda hanya butuh kanban board sederhana untuk koordinasi task internal
  • Budget IT sangat terbatas dan "gratis" adalah syarat mutlak
  • Tim Anda sudah sangat familiar dengan Microsoft Teams dan ingin semua in-satu-tempat
  • Kebutuhan manajemen tim Anda benar-benar minimal dan tidak butuh KPI tracking

Kapan SuperTim Pilihan yang Lebih Tepat?

SuperTim adalah jawaban yang lebih baik jika:

  • Anda butuh KPI tracking yang terhubung ke task harian — bukan sekadar todo list
  • Tim Anda tidak semua pakai Microsoft 365 (misalnya ada yang pakai Gmail atau Macbook)
  • Anda peduli dengan budaya kerja tim yang sehat dan monitoring wellbeing
  • Anda ingin laporan kinerja otomatis tanpa harus compile manual dari berbagai sumber
  • Bahasa Indonesia dan support lokal adalah kebutuhan penting

Studi Kasus: Distributor FMCG Semarang

Sebuah perusahaan distribusi FMCG di Semarang (35 orang, tim sales + admin + warehouse) menggunakan Microsoft Planner karena sudah berlangganan M365.

Masalah yang ditemui:

  • Tim warehouse tidak semua punya akun M365 — mereka tidak bisa akses Planner
  • KPI sales (target vs actual penjualan, jumlah kunjungan klien, conversion rate) tidak bisa ditrack di Planner
  • Manager harus compile laporan kinerja manual dari Excel setiap minggu
  • Tim yang tidak pakai M365 kembali koordinasi via WhatsApp group

Setelah beralih ke SuperTim:

  • Semua 35 anggota tim bisa akses dengan email apapun — tidak perlu lisensi M365
  • KPI per sales (target penjualan, kunjungan mingguan, pipeline) terhitung otomatis
  • Laporan kinerja mingguan siap dalam 1 klik
  • Tidak ada lagi WhatsApp chaos untuk koordinasi task

Cara Transisi dari Microsoft Planner ke SuperTim

Jika Anda saat ini menggunakan Planner dan ingin coba SuperTim:

  1. Export task Planner ke Excel (Planner mendukung export)
  2. Daftar SuperTim gratis — daftar dengan email apapun
  3. Buat project dan invite tim — tidak perlu lisensi khusus
  4. Setup KPI untuk setiap proyek atau divisi
  5. Jalankan paralel 2 minggu — biarkan tim merasakan perbedaannya

Anda bisa tetap menggunakan Teams untuk komunikasi sementara menggunakan SuperTim untuk task dan KPI management.


Saatnya upgrade dari task list biasa ke sistem manajemen kinerja yang lengkap. 🚀 Coba SuperTim Gratis — Tanpa Kartu Kredit

FAQ: SuperTim vs Microsoft Planner

1. Apakah SuperTim bisa diintegrasikan dengan Microsoft Teams?

Belum ada integrasi native saat ini. Anda menggunakan SuperTim dan Teams secara terpisah — Teams untuk komunikasi, SuperTim untuk task dan KPI management.

2. Apakah perlu menutup langganan M365 jika pindah ke SuperTim?

Tidak perlu. M365 tetap berguna untuk Office apps (Word, Excel, PowerPoint) dan Teams. SuperTim hanya menggantikan fungsi Planner sebagai task & KPI management tool.

3. Tim saya sudah nyaman dengan tampilan Microsoft — apakah SuperTim mudah dipelajari?

SuperTim dirancang dengan UI yang intuitif dan onboarding yang cepat. Tim yang familiar dengan konsep kanban/task biasanya bisa produktif dalam 30 menit pertama.

4. Microsoft Planner Premium vs SuperTim — mana yang lebih value for money?

Planner Premium membutuhkan Project Plan 1 ($10/user/bulan) untuk fitur lanjutan — jauh lebih mahal per user dibanding SuperTim, dan tetap tidak punya fitur KPI dan check-in yang SuperTim punya.

5. Apakah SuperTim cocok untuk perusahaan yang sudah BUMN atau korporat yang wajib pakai Microsoft?

Untuk keperluan kerja harian dan task management, SuperTim bisa digunakan secara paralel dengan tools Microsoft. Tidak ada konflik teknis.

6. Bagaimana dengan Microsoft Project vs SuperTim?

Microsoft Project adalah tools project management yang jauh lebih kompleks dan mahal (mulai $30/user/bulan) — lebih cocok untuk proyek konstruksi atau IT besar. SuperTim lebih tepat untuk manajemen tim bisnis sehari-hari.

7. Apakah data di SuperTim bisa diekspor seperti Planner?

SuperTim mendukung export laporan KPI ke format yang mudah dipresentasikan. Detail fitur export tersedia di halaman fitur SuperTim.

8. Apakah ada tools Microsoft yang bisa replace SuperTim untuk KPI tracking?

Microsoft Viva Goals (bagian dari Viva suite) bisa tracking OKR, tapi ini add-on premium yang sangat mahal dan tidak punya fitur check-in dan AI coach seperti SuperTim. Untuk bisnis Indonesia, SuperTim adalah pilihan yang jauh lebih praktikal.

Kesimpulan

Microsoft Planner adalah tools yang "cukup" — cukup untuk task sederhana dalam ekosistem Microsoft. Tapi untuk bisnis Indonesia yang ingin tumbuh dengan sistem, Planner memiliki terlalu banyak keterbatasan.

SuperTim bukan hanya task manager — ini adalah sistem manajemen kinerja tim yang dirancang untuk konteks bisnis Indonesia: KPI yang otomatis terhitung, check-in yang membangun budaya kerja sehat, dan support dalam bahasa Indonesia.

"Gratis" yang tidak bisa menjawab pertanyaan bisnis paling penting punya biaya tersembunyi yang besar. Investasi yang tepat pada sistem kerja yang benar akan membayar dirinya sendiri berkali-kali.

Baca Juga:


\n

Suka artikel ini?

Bagikan ke rekan kerja Anda

Ditulis oleh

SuperTim Editor

SuperTim Editor

Product & Productivity Specialist