SuperTim vs ClickUp: Terlalu Banyak Fitur Bukan Selalu Lebih Baik

TL;DR (Singkatnya)
ClickUp adalah platform ultra-lengkap dengan ratusan fitur, tapi justru inilah yang jadi masalah utamanya untuk tim Indonesia: terlalu overwhelming, kurva belajar curam, dan butuh dedicated admin untuk konfigurasi. SuperTim memilih pendekatan berbeda: fitur inti yang langsung terpakai, KPI terintegrasi, dan 100% Bahasa Indonesia.
ClickUp punya tagline yang berani: "One app to replace them all." Dan mereka cukup serius dengan itu — ClickUp punya lebih dari 1.000 fitur yang terus bertambah setiap bulan.
Kedengarannya luar biasa. Tapi ada pertanyaan yang perlu Anda jawab sebelum memilih ClickUp: Apakah tim Anda benar-benar akan menggunakan 1.000 fitur tersebut?
Atau lebih mungkin, apakah tim Anda akan pakai 10-20 fitur yang relevan, dan sisanya jadi noise yang membuat platform terasa berat dan membingungkan?
Hitung Metrik Bisnis Anda Secara Otomatis
Gunakan kalkulator gratis kami untuk menghitung Burn Rate, BEP, atau KPI karyawan tanpa rumus rumit.
Lihat Alat Gratis SuperTimArtikel ini membedah ClickUp vs SuperTim secara jujur — termasuk kapan ClickUp masih masuk akal dan kapan SuperTim adalah pilihan yang lebih tepat untuk bisnis Indonesia Anda.
Untuk perbandingan tools lain, baca juga SuperTim vs Monday.com dan SuperTim vs Asana.
Mengenal ClickUp: Ambisi Besar, Kompleksitas Besar
ClickUp diluncurkan pada 2017 dan kini menjadi salah satu platform all-in-one yang paling agresif berkembang di dunia SaaS. Valuasinya mencapai $4 miliar pada 2021. Mereka terus menambah fitur dengan kecepatan yang luar biasa — dokumen, whiteboard, chat, goals, inbox, AI writing, sprints, form builder, dan seterusnya.
Apa yang Membuatek ClickUp Menarik?
- Sangat lengkap — hampir semua yang Anda bayangkan ada di sini
- Highly customizable — bisa dikonfigurasi untuk hampir semua workflow
- Free plan generous — unlimited tasks, unlimited members (dengan batasan storage)
- View yang sangat beragam — List, Board, Gantt, Calendar, Table, Timeline, Workload, Mind Map, dll
- Built-in Docs — editor dokumen terintegrasi dalam task
- ClickUp AI — fitur AI writing dan ringkasan
Masalah Utama ClickUp untuk Bisnis Indonesia
1. Overwhelming Complexity — "Feature Overload"
ClickUp punya konsep hierarki yang dalam: Workspace → Space → Folder → List → Task → Subtask → Checklist → Custom Fields → Views → Automations → Integrations...
Ingin Belajar Lebih Banyak?
Jelajahi panduan lengkap kami tentang OKR, KPI, dan manajemen tim modern.
Baca Artikel LainnyaSebelum bisa produktif, tim Anda perlu memutuskan: Space mana yang mau dipakai? Custom field apa yang relevan? Automation rule mana yang perlu diaktifkan? View mana yang jadi default?
Tanpa dedicated ClickUp admin yang mengkonfigurasi segalanya, banyak tim justru tenggelam dalam pilihan. Alih-alih kerja, waktu habis untuk konfigurasi tools. Ini paradoks produktivitas yang kami sebut "over-engineering your workflow".
2. Kurva Belajar yang Sangat Curam
Rata-rata tim baru butuh 2–4 minggu sebelum bisa produktif penuh di ClickUp. Banyak yang menyerah di tengah jalan — kembali ke WhatsApp atau Excel karena "ClickUp terlalu ribet".
Ini bukan asumsi — ini feedback yang kami dengar berulang kali dari bisnis Indonesia yang datang ke SuperTim setelah "gagal" dengan ClickUp. Baca juga mengapa delegasi tugas yang terlalu kompleks sering gagal.
3. Harga Dalam USD dan Naik Terus
ClickUp Unlimited mulai dari $7/user/bulan (tahunan). Tapi fitur yang benar-benar bisnis butuhkan — seperti Gantt yang tidak dibatasi, Workload view, dan Goals — baru ada di paket Business ($12/user/bulan).
- Tim 10 orang di Business = $120/bulan ≈ Rp 1.920.000/bulan
- Tim 20 orang = $240/bulan ≈ Rp 3.840.000/bulan
Dan harga ini dalam USD — berarti naik otomatis setiap rupiah melemah.
4. Goals Feature Ada Tapi Tidak Terhubung ke Task secara Otomatis
ClickUp punya fitur "Goals", tapi hubungannya ke task bersifat manual — Anda harus sendiri menentukan "task ini berkontribusi ke goal ini". Tidak ada kalkulasi otomatis berdasarkan task completion. Ini beda jauh dengan pendekatan SuperTim yang menghitung KPI secara otomatis dari aktivitas task harian.
5. Tidak Ada Check-in atau Mood Tracking
Fitur manajemen wellbeing tim tidak ada di ClickUp. Sebagai Manager yang peduli budaya kerja tim yang sehat, Anda tidak bisa tracking mood atau beban kerja nyata tiap anggota tim.
💡 Insight dari Tim SuperTim: ClickUp adalah bukti bahwa "lebih banyak fitur" bukan selalu solusi. Bisnis Indonesia yang sehat butuh fokus — alat yang membantu tim tahu apa yang paling penting hari ini dan apakah mereka on track. Bukan alat yang membutuhkan 50 jam konfigurasi sebelum bisa dipakai.
SuperTim: "Opinionated by Design"
SuperTim sengaja memilih pendekatan yang berlawanan dengan ClickUp. Kami tidak mencoba menjadi "one app to replace them all". Kami fokus pada satu workflow yang paling penting untuk bisnis Indonesia: Goal → KPI → Proyek → Tugas harian.
Istilah teknisnya: SuperTim adalah platform yang opinionated — kami sudah memutuskan struktur terbaik untuk Anda, sehingga Anda tidak harus menghabiskan waktu berharga untuk mengkonfigurasi.
Filosofi "3 Menit Onboarding"
Di SuperTim, tim baru bisa produktif dalam 3 menit:
- Daftar → buat organisasi
- Buat project pertama
- Tambah task dan assign ke anggota
Tidak perlu pilih Space, Folder, Custom Field, atau View dulu. Langsung kerja.
Ini bukan berarti SuperTim miskin fitur — ini berarti SuperTim punya sensible defaults yang langsung masuk akal untuk bisnis Indonesia.
Perbandingan Head-to-Head: SuperTim vs ClickUp
| Kriteria | SuperTim | ClickUp |
|---|---|---|
| Harga (Tim 10 Org) | ~Rp 990.000–1.490.000/bulan | ~Rp 1.120.000–1.920.000+/bulan |
| Free Plan | ✅ 5 user, 3 project, 5 KPI | ✅ Unlimited tasks (tapi terbatas) |
| Bahasa Indonesia | ✅ Penuh | ❌ Inggris |
| Waktu Onboarding | ✅ < 30 menit | ⚠️ 2–4 minggu |
| KPI Terintegrasi Otomatis | ✅ Goal → KPI → Task linked | ⚠️ Goals ada, tapi manual |
| Daily Check-in | ✅ Built-in | ❌ Tidak ada |
| AI Coach Kontekstual | ✅ Paham konteks bisnis Anda | ⚠️ AI writing only |
| Complexity Level | ✅ Rendah (langsung produktif) | ⚠️ Tinggi (perlu konfigurasi) |
| Kanban View | ✅ Ada | ✅ Ada |
| List View | ✅ Ada | ✅ Ada |
| Gantt/Timeline | ⚠️ Roadmap | ✅ Ada (paket berbayar) |
| Docs / Wiki | ❌ Tidak ada | ✅ Ada |
| Whiteboard | ❌ Tidak ada | ✅ Ada |
| Built-in Chat | ❌ Tidak ada | ✅ Ada |
| Mobile App | ⚠️ Roadmap | ✅ Ada |
| Jumlah Fitur | 🎯 Fokus pada inti | 🌊 1000+ fitur |
| Harga Stabil Rupiah | ✅ Ya | ❌ USD |
Apa yang ClickUp Lebih Unggul?
Jujur perlu diakui: ClickUp memang unggul di:
- Kelengkapan fitur — hampir tidak ada yang tidak ada
- Docs & Wiki — bisa jadi knowledge base tim
- Built-in Chat — mengurangi kebutuhan Slack/Teams
- Multiple Views — pilihan tampilan yang sangat beragam
- Time Tracking — bawaan, tidak perlu integasi eksternal
Ini nilai nyata jika tim Anda siap menginvestasikan waktu untuk konfigurasi dan onboarding.
Di Mana SuperTim Lebih Unggul?
- Langsung produktif — tidak butuh admin khusus atau training panjang
- KPI otomatis — tidak perlu setup manual yang rumit
- Lokal by design — bahasa, support, dan konteks bisnis Indonesia
- Focus — tidak ada distraksi dari ratusan fitur yang tidak relevan
- Check-in & wellbeing — fitur yang tidak ada di ClickUp sama sekali
- Harga stabil — tidak bergantung fluktuasi USD
Siapa yang Sebaiknya Pilih ClickUp?
ClickUp masih pilihan yang kuat jika:
- Tim Anda sangat tech-savvy dan punya dedicated "ClickUp admin" yang bisa setup dan maintain konfigurasi
- Anda butuh semua fitur dalam satu platform — chat, docs, whiteboard, time tracking, dll — dan tidak mau bayar multiple tools
- Tim Anda sudah berpengalaman dengan ClickUp sebelumnya
- Anda membutuhkan Gantt chart yang sangat detail untuk proyek besar
- Budget dan waktu onboarding bukan isu
Siapa yang Sebaiknya Pilih SuperTim?
SuperTim adalah pilihan tepat jika:
- Anda ingin tim produktif dalam hari pertama, bukan minggu pertama
- Anda butuh KPI yang terhubung ke task harian tanpa setup manual yang panjang
- Bahasa Indonesia dan support lokal adalah prioritas
- Anda adalah Owner yang ingin dashboard KPI yang jelas tanpa harus buat sendiri
- Anda memprioritaskan budaya kerja sehat dengan mood tracking dan check-in
- Anda tidak mau membayar untuk fitur yang 80% tidak akan pernah Anda gunakan
- Stabilitas harga Rupiah penting untuk budgeting bisnis Anda
Studi Kasus: Software House Surabaya Tinggalkan ClickUp
Sebuah software house di Surabaya dengan 20 developer mencoba ClickUp selama 3 bulan. Keputusan awal: "ClickUp punya semua yang kita butuh sekarang dan masa depan."
Realita setelah 3 bulan:
- Hanya 30% fitur yang benar-benar dipakai secara rutin
- Developer mengeluh UI "terlalu ramai" dan sering buka ClickUp sambil buka Notion terpisah untuk dokumentasi
- KPI dev (story points, bug fix rate, deployment frequency) tetap dicatat manual di Google Sheets karena setup ClickUp Goals terlalu kompleks
- Biaya: Rp 3.600.000/bulan untuk 20 user di paket Business
Setelah migrasi ke SuperTim:
- Setup awal selesai dalam 1 hari (bukan 3 minggu seperti ClickUp)
- KPI per developer langsung terhitung from task completion data
- Biaya turun ke Rp 1.500.000/bulan
- Tim merasa "lebih simpel dan langsung ke point"
- Penghematan: Rp 2.100.000/bulan = Rp 25.200.000/tahun
Cara Mulai Transisi dari ClickUp ke SuperTim
Punya banyak data di ClickUp? Ini langkah migrasi yang kami rekomendasikan:
- Export data dari ClickUp — ClickUp mendukung CSV export per list/folder
- Daftar SuperTim gratis dan buat workspace
- Mulai dengan proyek baru — jangan coba migrate semua sekaligus
- Setup KPI untuk setiap proyek baru di SuperTim
- Aktifkan check-in untuk anggota tim
- Evaluasi setelah 30 hari — bandingkan produktivitas dan kepuasan tim
Mau sistem manajemen tim yang langsung produktif tanpa konfigurasi berhari-hari? 🚀 Coba SuperTim Gratis — Tanpa Kartu Kredit
FAQ: SuperTim vs ClickUp
1. ClickUp katanya punya fitur Goals — kenapa SuperTim lebih baik untuk KPI?
Fitur Goals ClickUp bersifat manual — Anda harus sendiri menghubungkan task ke goal dan mengupdate progress secara manual. Di SuperTim, progress KPI terhitung otomatis dari aktivitas task, sehingga tidak ada overhead administratif tambahan.
2. Apakah SuperTim bisa menggantikan ClickUp Docs?
Tidak saat ini. SuperTim fokus pada task management dan KPI, bukan sebagai platform dokumentasi. Jika Anda butuh wiki/docs, Anda bisa tetap gunakan Notion atau Confluence untuk dokumentasi sambil menggunakan SuperTim untuk task & KPI management.
3. ClickUp free plan sangat generous — kenapa harus bayar SuperTim?
ClickUp free memang generous untuk jumlah task, tapi banyak fitur kunci (Gantt, Goals, Workload, Automations) hanya tersedia di paket berbayar. SuperTim free plan lebih terbatas di jumlah (5 user, 3 project) tapi fitur corenya sudah penuh termasuk KPI tracking.
4. Berapa lama biasanya tim bisa produktif di SuperTim vs ClickUp?
Rata-rata tim baru produktif di SuperTim dalam < 30 menit. Di ClickUp, berdasarkan pengalaman kami, tim rata-rata baru benar-benar nyaman setelah 2–4 minggu, terutama jika tidak ada yang pernah pakai ClickUp sebelumnya.
5. Apakah SuperTim punya fitur time tracking seperti ClickUp?
Belum. Time tracking bawaan sedang dalam roadmap SuperTim. Saat ini, tracking waktu bisa dilakukan secara manual melalui notes di task atau menggunakan tools eksternal.
6. Saya sudah bayar ClickUp tahunan — apakah rugi pindah sekarang?
Hitung lebih dulu: berapa fitur yang benar-benar dipakai vs yang Anda bayar. Jika produktivitas tim masih tidak optimal dengan ClickUp, biaya "rugi" dari yearly plan kemungkinan jauh lebih kecil dari biaya inefisiensi yang terus terjadi setiap bulan.
7. Bagaimana dengan ClickUp AI vs AI Coach di SuperTim?
ClickUp AI fokus pada AI writing dan ringkasan task. AI Coach SuperTim lebih kontekstual untuk manajemen bisnis — bisa bantu buat KPI dari scratch, generate weekly performance summary, dan rekomendasikan fokus strategis berdasarkan data tim Anda.
8. Apakah ada risiko data hilang saat pindah dari ClickUp ke SuperTim?
Tidak, karena Anda tidak perlu menghapus data ClickUp. Export data ke CSV terlebih dahulu sebagai arsip, lalu bangun ulang proyek aktif di SuperTim. Data historis tetap aman di ClickUp.
Kesimpulan: Pilih Simplicity yang Tepat Sasaran
"Lebih banyak fitur" adalah jebakan yang sering menipu decision maker. ClickUp memang impressive di atas kertas — tapi jika 70% fiturnya tidak relevan untuk bisnis Anda, Anda sedang membayar untuk sesuatu yang tidak terpakai sambil menanggung kompleksitas yang memperlambat tim.
SuperTim bukan tools "lebih sederhana" dalam arti inferior. SuperTim adalah tools dengan kesederhanaan yang dipilih dengan sengaja — karena kami percaya bahwa bisnis Indonesia butuh tools yang langsung bisa dipakai, bukan tools yang butuh konfigurasi berhari-hari sebelum memberikan nilai.
Jika bisnis Anda butuh KPI yang terhubung ke kerja harian, budaya kerja yang transparan, dan sistem yang bisa membuat bisnis berjalan lebih autopilot — SuperTim adalah jawabannya.
Baca Juga:
- SuperTim vs Monday.com: Mana yang Lebih Cocok?
- SuperTim vs Asana: Perbandingan Lengkap
- SuperTim vs Trello: Kanban Saja Tidak Cukup
- Cara Mengatur KPI Tim yang Efektif
- Tanda Bisnis Anda Siap Scaling
\n
Ditulis oleh
SuperTim Editor
Product & Productivity Specialist
Daftar Isi
- Mengenal ClickUp: Ambisi Besar, Kompleksitas Besar
- Apa yang Membuatek ClickUp Menarik?
- Masalah Utama ClickUp untuk Bisnis Indonesia
- SuperTim: "Opinionated by Design"
- Filosofi "3 Menit Onboarding"
- Perbandingan Head-to-Head: SuperTim vs ClickUp
- Apa yang ClickUp Lebih Unggul?
- Di Mana SuperTim Lebih Unggul?
- Siapa yang Sebaiknya Pilih ClickUp?
- Siapa yang Sebaiknya Pilih SuperTim?
- Studi Kasus: Software House Surabaya Tinggalkan ClickUp
- Cara Mulai Transisi dari ClickUp ke SuperTim
- FAQ: SuperTim vs ClickUp
- 1. ClickUp katanya punya fitur Goals — kenapa SuperTim lebih baik untuk KPI?
- 2. Apakah SuperTim bisa menggantikan ClickUp Docs?
- 3. ClickUp free plan sangat generous — kenapa harus bayar SuperTim?
- 4. Berapa lama biasanya tim bisa produktif di SuperTim vs ClickUp?
- 5. Apakah SuperTim punya fitur time tracking seperti ClickUp?
- 6. Saya sudah bayar ClickUp tahunan — apakah rugi pindah sekarang?
- 7. Bagaimana dengan ClickUp AI vs AI Coach di SuperTim?
- 8. Apakah ada risiko data hilang saat pindah dari ClickUp ke SuperTim?
- Kesimpulan: Pilih Simplicity yang Tepat Sasaran


