Home/
SuperTim vs Asana: Mana yang Lebih Cocok untuk Tim Indonesia?
Komparasi Produk24 Februari 20269 min read

SuperTim vs Asana: Mana yang Lebih Cocok untuk Tim Indonesia?

SuperTim vs Asana: Mana yang Lebih Cocok untuk Tim Indonesia?

TL;DR (Singkatnya)

Asana adalah tools manajemen proyek yang powerful namun kompleks dan mahal dalam kurs USD. Untuk bisnis Indonesia skala UKM yang butuh KPI tracking terintegrasi, bahasa Indonesia, dan harga Rupiah, SuperTim adalah alternatif yang jauh lebih relevan dan cost-effective.

Asana adalah salah satu nama paling populer di dunia manajemen proyek. Didirikan oleh co-founder Facebook dustin Moskovitz, Asana kini melayani lebih dari 150.000 organisasi di seluruh dunia. Kedengarannya impressive — tapi apakah itu berarti Asana cocok untuk bisnis Anda di Indonesia?

Ini pertanyaan yang jawabannya lebih kompleks dari sekadar "ya" atau "tidak". Artikel ini akan membantu Anda membuat keputusan berdasarkan fakta dan konteks nyata bisnis di Indonesia — bukan sekadar review fitur generik.

Jika Anda juga sedang mempertimbangkan tools lain, baca perbandingan SuperTim vs Monday.com dan mengapa WhatsApp bukan platform kerja yang tepat.

Hitung Metrik Bisnis Anda Secara Otomatis

Gunakan kalkulator gratis kami untuk menghitung Burn Rate, BEP, atau KPI karyawan tanpa rumus rumit.

Lihat Alat Gratis SuperTim

Apa Itu Asana dan Siapa Target Penggunanya?

Asana adalah platform work management yang fokus pada tracking tugas, proyek, dan workflow dalam tim. Kekuatan utamanya ada pada visualisasi proyek yang beragam: List, Board, Timeline (Gantt), Calendar, hingga Portfolio view.

Target pengguna Asana yang sebenarnya adalah:

  • Tim teknologi & startup yang terbiasa dengan tools SaaS canggih
  • Perusahaan enterprise dengan tim 50+ orang dan proses kerja yang sudah terdokumentasi
  • Tim yang punya waktu onboarding untuk konfigurasi initial yang cukup panjang

Kelebihan Asana

  • Tampilan proyek yang lengkap: List, Board, Timeline, Workload, Portfolio
  • Rules & Automation: Workflow otomatis yang powerful (if-then triggers)
  • Goals tracking: Ada fitur Goals di paket berbayar
  • Reporting: Laporan progres yang visual dan bisa di-export
  • Integrasi luas: Terhubung ke 200+ aplikasi (Slack, Google, Zoom, dll)

Kelemahan Asana untuk Konteks Indonesia

1. Harga yang Signifikan dalam Kurs Rupiah

Paket Asana Starter mulai dari $13,49/user/bulan (billing tahunan). Artinya:

  • Tim 10 orang = $134,9/bulan ≈ Rp 2.160.000/bulan
  • Tim 20 orang = $269,8/bulan ≈ Rp 4.320.000/bulan

Paket gratis Asana hanya untuk tim ≤10 orang dan fiturnya sangat terbatas — tidak ada Timeline, Goals, Custom Rules, atau Reporting.

Ingin Belajar Lebih Banyak?

Jelajahi panduan lengkap kami tentang OKR, KPI, dan manajemen tim modern.

Baca Artikel Lainnya

2. Kurva Belajar yang Curam

Asana punya konsep hierarki yang perlu dipahami dulu: Organization > Team > Project > Section > Task > Subtask > Dependency. Untuk bisnis yang belum terbiasa dengan metodologi project management formal, ini bisa membingungkan.

💡 Insight dari Tim SuperTim: Dari ratusan bisnis Indonesia yang kami bantu, mayoritas tim tidak butuh 7 level hierarki. Mereka butuh: Proyek → Tugas → Siapa → Kapan selesai → Sudah sampai mana. Sesederhana itu — dan SuperTim dirancang persis dengan prinsip ini. Baca juga mengapa delegasi tugas yang terlalu rumit justru sering gagal.

3. Tidak Ada Modul KPI Terintegrasi

Fitur "Goals" di Asana ada, tapi terpisah dari task management. Anda tidak bisa langsung melihat: "Task X ini berkontribusi berapa persen ke KPI Y?" Hubungan Goal → KPI → Task tidak terjadi secara otomatis.

4. Support Bahasa Indonesia Tidak Ada

Sama seperti tools internasional lainnya, Asana sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Bagi anggota tim yang tidak nyaman dengan bahasa Inggris, ini jadi hambatan adopsi yang nyata.

5. Free Plan Sangat Terbatas

Fitur gratis Asana tidak mencakup Timeline, Goals, Reporting, dan Custom Fields — padahal fitur-fitur itulah yang membuat Asana berharga. Artinya untuk merasakan manfaat penuh, Anda harus langsung bayar.

SuperTim: Dibangun untuk Ritme Kerja Indonesia

SuperTim.id didesain dengan filosofi yang berbeda dari Asana: bukan sekadar manajemen proyek, tapi menghubungkan Goal → KPI → Proyek → Tugas harian dalam satu platform yang logis dan mudah dipahami tanpa training panjang.

Perbedaan Filosofi: "Manager First" vs "Task First"

Asana dimulai dari task — Anda buat task, assign, set deadline, selesai. Bagus, tapi tidak menjawab pertanyaan yang lebih penting untuk seorang Owner atau Manager: "Apakah pekerjaan tim saya mengarah ke goal bisnis?"

SuperTim menjawab itu dengan:

  1. Goal & KPI Dashboard — Owner bisa lihat langsung: revenue target vs actual, jumlah klien minggu ini vs target, persentase task selesai tepat waktu
  2. Check-in Harian & Mingguan — Anggota tim update progress, mood, dan fokus — Manager langsung tahu status tim tanpa harus tanya satu per satu
  3. AI Coach — Asisten yang bisa bantu buat KPI dari scratch, generate weekly summary, dan kasih rekomendasi fokus minggu depan

Fitur yang Asana Tidak Punya (Tapi SuperTim Punya)

FiturSuperTimAsana
Daily Check-in✅ Built-in❌ Tidak ada
Mood Tracking Tim✅ Ada❌ Tidak ada
AI Coach Kontekstual✅ Ada⚠️ Asana Intelligence (premium only)
Weekly AI Summary✅ Otomatis❌ Tidak ada
KPI → Task Linkage✅ Terintegrasi⚠️ Partial (Goals terpisah)
Bahasa Indonesia✅ Penuh❌ Tidak ada
Harga Rupiah✅ Ya❌ USD

Perbandingan Lengkap: SuperTim vs Asana

KriteriaSuperTimAsana
Harga (Tim 10 Org)~Rp 990.000–1.490.000/bulan~Rp 2.160.000+/bulan
Free Plan✅ 5 user, 3 project, 5 KPI⚠️ 10 user, fitur sangat terbatas
Bahasa Antarmuka✅ Indonesia penuh❌ Inggris
Support Lokal✅ WA + Email (Bahasa Indonesia)❌ Email Inggris
KPI Terintegrasi✅ Goal → KPI → Task otomatis⚠️ Goals terpisah, tidak otomatis
Daily Check-in✅ Built-in❌ Tidak ada
AI Coach✅ Paket berbayar⚠️ Enterprise only
Timeline / Gantt⚠️ Roadmap✅ Tersedia (paket berbayar)
Portfolio View⚠️ Roadmap✅ Enterprise only
Kemudahan Onboarding✅ Siap pakai <30 menit⚠️ Perlu waktu setup lebih lama
Multi-Cabang✅ Ada✅ Ada (Enterprise)
Mobile App⚠️ Roadmap✅ Ada
Integrasi Eksternal⚠️ Roadmap✅ 200+ integrasi
Harga Stabil (Rupiah)✅ Ya❌ USD (fluktuasi kurs)

Kapan Asana Masih Relevan?

Asana tetap pilihan yang valid jika:

  • Tim Anda 50+ orang dan sudah menjalankan project management secara formal
  • Anda butuh Timeline/Gantt yang kompleks untuk proyek konstruksi atau software development berjangka panjang
  • Tim Anda sudah sangat familiar dengan tools SaaS dan bahasa Inggris
  • Anda butuh Portfolio view untuk manage banyak proyek sekaligus di level eksekutif
  • Budget IT bulanan >Rp 3 juta tidak jadi masalah

Kapan SuperTim Pilihan yang Lebih Tepat?

SuperTim adalah jawaban yang lebih masuk akal jika:

  • Tim Anda 5–100 orang, berbisnis di Indonesia, dan butuh tools yang langsung produktif
  • Anda seorang Owner yang mau pantau KPI tanpa harus buka spreadsheet terpisah
  • Anda ingin budaya kerja yang transparan dan akuntabel tanpa menciptakan overhead administratif baru
  • Anda tidak mau tim Anda harus "belajar dulu 2 minggu" sebelum bisa pakai tools
  • Anda mau pastikan biaya tools tidak naik tiba-tiba karena kurs

Studi Kasus: Konsultan HR Jakarta Beralih dari Asana ke SuperTim

Sebuah firma konsultan HR di Jakarta dengan 15 konsultan sebelumnya menggunakan Asana paket Premium. Masalah yang mereka hadapi:

Masalah dengan Asana:

  • Biaya bulanan Rp 2.700.000 (15 × $12 × Rp 15.000)
  • Tim tidak paham Goals feature — akhirnya KPI tetap dicatat di Excel terpisah
  • Tidak ada cara tracking "mood" atau beban kerja anggota selain buat task manual
  • Klien minta laporan progress → harus export manual dan format ulang

Setelah beralih ke SuperTim:

  • Biaya turun menjadi Rp 1.350.000/bulan untuk 15 user
  • KPI setiap konsultan (jumlah klien aktif, sesi konsultasi/bulan, rata-rata skor kepuasan) terhitung otomatis
  • Daily check-in menggantikan WhatsApp status pagi yang sering terlewat
  • Penghematan: Rp 1.350.000/bulan = Rp 16.200.000/tahun

Cara Mulai dengan SuperTim Hari Ini

Tidak perlu pindah semuanya sekaligus. Ini roadmap migrasi yang kami rekomendasikan:

Week 1 – Pilot:

  1. Daftar SuperTim gratis — tidak perlu kartu kredit
  2. Buat 1 proyek aktif yang paling krusial
  3. Undang 3–5 anggota tim inti

Week 2–3 – Evaluasi: 4. Isi KPI untuk proyek pilot 5. Aktifkan daily check-in untuk anggota tim 6. Bandingkan langsung: mana yang lebih mudah dipakai?

Week 4+ – Migrasi Penuh: 7. Pindahkan semua proyek aktif ke SuperTim 8. Arsipkan proyek lama di Asana atau export datanya


Siap merasakan manajemen tim yang dirancang untuk ritme kerja Indonesia? 🚀 Coba SuperTim Gratis Sekarang — Tanpa Kartu Kredit

FAQ: SuperTim vs Asana

1. Apakah SuperTim setara dengan Asana dari sisi fitur?

Untuk kebutuhan UKM dan tim Indonesia skala 5–100 orang, SuperTim lebih dari cukup. SuperTim unggul di KPI tracking terintegrasi, check-in harian, dan AI coach — fitur yang tidak ada di Asana. Asana unggul di Gantt chart kompleks dan portfolio management yang lebih cocok untuk enterprise.

2. Bisa impor data dari Asana ke SuperTim?

Saat ini proses pemindahan dilakukan manual — Anda buat ulang project dan task di SuperTim. Tim support kami siap membantu proses onboarding via WhatsApp jika dibutuhkan.

3. Apakah Asana punya fitur check-in harian seperti SuperTim?

Tidak. Asana tidak memiliki fitur daily check-in atau mood tracking bawaan. Jika Anda membutuhkan ini, Anda harus membuat workaround dengan custom task atau integrasi ke tools lain.

4. Bagaimana SuperTim handle proyek yang deadline-nya panjang (6-12 bulan)?

SuperTim mendukung proyek dengan due date jangka panjang, subtask, dan KPI per periode. Untuk visual Gantt chart yang sangat detail, fitur ini masih dalam roadmap pengembangan SuperTim.

5. Apakah Asana ada free plan yang layak?

Free plan Asana tersedia untuk maksimal 10 user, tapi banyak fitur kunci (Timeline, Goals, Reporting, Custom Rules) tidak tersedia. Untuk manfaat penuh, Anda harus upgrade ke paket berbayar.

6. Apakah SuperTim cocok untuk tim yang sudah biasa pakai Asana?

Ya, justru sangat cocok. Tim yang sudah familiar dengan konsep project management di Asana akan menemukan SuperTim lebih mudah dipahami karena lebih sederhana dan ditambah fitur KPI yang tidak ada di Asana.

7. Bagaimana perbandingan keamanan data SuperTim vs Asana?

SuperTim menggunakan enkripsi data standar industri dan backup rutin. Detail teknis tersedia di halaman Security SuperTim. Asana juga menggunakan standar keamanan enterprise yang tinggi — keduanya aman untuk data bisnis.

8. Apakah SuperTim punya fitur automasi workflow seperti Asana?

Fitur automation rules sedang dalam roadmap SuperTim. Saat ini, SuperTim fokus pada fitur inti yang langsung berdampak: KPI tracking, task management, dan check-in.

Kesimpulan: Pilih Tools Sesuai Skala dan Konteks Bisnis Anda

Asana memang powerful — tapi powerful bukan selalu berarti tepat untuk Anda. Kompleksitasnya, harganya, dan kurangnya lokalisasi menjadikannya kurang ideal untuk sebagian besar UKM Indonesia.

Jika bisnis Anda membutuhkan:

...maka SuperTim bukan sekadar alternatif Asana — ini adalah tools yang lebih relevan untuk konteks Anda.

Baca Juga:


\n

Suka artikel ini?

Bagikan ke rekan kerja Anda

Ditulis oleh

SuperTim Editor

SuperTim Editor

Product & Productivity Specialist