Home/
SuperTim vs Jira: Tools Developer vs Tools Bisnis — Apa Bedanya?
Komparasi Produk24 Februari 20269 min read

SuperTim vs Jira: Tools Developer vs Tools Bisnis — Apa Bedanya?

SuperTim vs Jira: Tools Developer vs Tools Bisnis — Apa Bedanya?

TL;DR (Singkatnya)

Jira adalah platform project management terbaik untuk tim software development yang menjalankan metodologi Agile/Scrum. Namun untuk tim bisnis umum (sales, marketing, HR, operasional) di Indonesia, Jira terlalu teknis, mahal, dan tidak punya fitur KPI bisnis yang relevan. SuperTim adalah alternatif yang lebih tepat sasaran.

Jika Anda pernah mendengar kata "sprint", "backlog", "epics", atau "story points" — kemungkinan besar Anda sudah kenal dengan Jira. Dibuat oleh Atlassian (perusahaan Australia yang juga membuat Trello dan Confluence), Jira adalah standar industri untuk tim pengembangan software yang bekerja dengan metodologi Agile dan Scrum.

Tapi belakangan ini, banyak bisnis non-teknologi yang mencoba mengadopsi Jira karena terdengar "enterprise" dan "profesional". Pertanyaannya: apakah keputusan tersebut tepat?

Artikel ini akan menjawab dengan jujur: kapan Jira adalah pilihan yang benar, dan kapan SuperTim adalah jawaban yang jauh lebih relevan — terutama untuk bisnis Indonesia di luar industri teknologi.

Hitung Metrik Bisnis Anda Secara Otomatis

Gunakan kalkulator gratis kami untuk menghitung Burn Rate, BEP, atau KPI karyawan tanpa rumus rumit.

Lihat Alat Gratis SuperTim

Untuk membandingkan tools lain, baca juga SuperTim vs Asana dan SuperTim vs ClickUp.

Apa Itu Jira dan Untuk Siapa?

Jira Software adalah platform issue and project tracking yang didesain khusus untuk tim software development. Konsep intinya adalah Agile methodology: Sprint planning, backlog grooming, burndown chart, velocity tracking, dan sebagainya.

Target pengguna Jira yang sebenarnya adalah sangat spesifik:

  • Software developers yang menjalankan Scrum atau Kanban
  • QA Engineers untuk tracking bugs dan issues
  • Product Managers yang manage product backlog
  • DevOps teams untuk incident management

Kelebihan Jira untuk Tim Tech

  • Agile-native — Sprint planning, backlog, velocity chart semua ada
  • Bug dan issue tracking yang sangat detail
  • Integrasi dev tools — GitHub, GitLab, Bitbucket, CI/CD pipelines
  • Confluence integration — wiki terintegrasi
  • Reporting teknis — burndown chart, velocity, cycle time

Mengapa Jira Tidak Cocok untuk Bisnis Umum di Indonesia

1. Terminologi yang Membingungkan

Jira penuh dengan jargon Developer: Epics, Stories, Sprints, Backlog, Story Points, Velocity, Burndown. Untuk tim Sales, Marketing, atau HR yang tidak familiar dengan Agile methodology, ini sangat membingungkan dan alienating.

Ingin Belajar Lebih Banyak?

Jelajahi panduan lengkap kami tentang OKR, KPI, dan manajemen tim modern.

Baca Artikel Lainnya

Bayangkan Anda bilang ke tim admin online shop Anda: "Tolong masukkan task ini ke Sprint 3 dan estimate story point-nya." Mereka akan menatap Anda dengan bingung.

2. Tidak Ada KPI Bisnis — Hanya Metrics Developer

Jira punya reporting yang sangat detail, tapi semua metrik-nya untuk developer: velocity, cycle time, lead time, deployment frequency, MTTR. Tidak ada modul untuk tracking KPI bisnis umum seperti: revenue target, jumlah klien baru, persentase task selesai tepat waktu, atau skor kepuasan pelanggan.

Untuk KPI bisnis yang terintegrasi, Anda perlu tools yang berbeda.

3. Harga yang Tidak Bersahabat untuk UKM

Jira Standard mulai dari $8.15/user/bulan (tahunan). Untuk tim 10 orang = $81.5/bulan ≈ Rp 1.304.000/bulan. Tidak terlalu mahal dibanding Monday.com, tapi Anda membayar untuk ekosistem yang mostly tidak relevan untuk bisnis non-tech.

4. Tidak Ada Check-in atau Wellbeing Feature

Seperti tools enterprise pada umumnya, Jira tidak punya fitur untuk monitoring kondisi tim: tidak ada daily check-in, tidak ada mood tracking, tidak ada cara mendeteksi anggota tim yang mulai burnout sebelum terlambat.

5. Setup dan Konfigurasi yang Sangat In-Depth

Jira membutuhkan konfigurasi awal yang cukup panjang: permission schemes, workflow schemes, custom fields, board configurations, dan sebagainya. Tanpa admin yang paham Jira, setup awal bisa memakan waktu berhari-hari.

💡 Insight dari Tim SuperTim: Kami sering bertemu dengan bisnis Indonesia yang pakai Jira bukan karena mereka butuh Jira, tapi karena "terdengar enterprise". Hasilnya, tim kebingungan, sebagian besar fitur tidak terpakai, dan produktivitas justru turun. Tools yang tepat adalah yang relevan dengan cara kerja tim Anda — bukan yang paling terkenal. Baca juga tanda-tanda bisnis Anda siap scaling untuk memahami kapan Anda memang butuh tools yang lebih kompleks.

SuperTim: Untuk Semua Tim, Bukan Hanya Developer

SuperTim.id dirancang untuk semua jenis tim bisnis — bukan hanya developer. Bahasa yang digunakan, struktur yang ditawarkan, dan fitur yang dibangun semuanya relevan untuk:

  • Tim Sales yang mau track target dan pipeline
  • Tim Marketing yang mau monitor campaign dan konten
  • Tim Operasional yang mau SOP-ize pekerjaan rutin
  • Tim HR yang mau track onboarding dan performance review
  • Owner yang mau lihat KPI bisnis secara keseluruhan

SuperTim untuk Tim Tech Indonesia

Jika Anda adalah software house atau startup tech Indonesia, SuperTim juga bisa digunakan untuk layer manajemen bisnis di atas proses development Anda:

  • Gunakan Jira/Linear untuk technical tasks (sprint, bugfix, etc.)
  • Gunakan SuperTim untuk business KPIs (revenue, client satisfaction, tim performance)
  • SuperTim sebagai jembatan antara tim tech dan owner/stakeholder bisnis yang tidak paham Agile

Perbandingan Head-to-Head: SuperTim vs Jira

KriteriaSuperTimJira
Target Pengguna✅ Semua jenis tim bisnis⚠️ Developer & Product teams
Harga (Tim 10 Org)~Rp 990.000–1.490.000/bulan~Rp 1.304.000/bulan
Free Plan✅ 5 user, 3 project, 5 KPI✅ 10 user (fitur terbatas)
Bahasa Indonesia✅ Penuh❌ Inggris
KPI Bisnis✅ Terintegrasi otomatis❌ Hanya metrics developer
Daily Check-in✅ Built-in❌ Tidak ada
Scrum/Agile Feature❌ Tidak ada✅ Core strength
Bug/Issue Tracking❌ Tidak ada✅ Core strength
Burndown Chart❌ Tidak ada✅ Ada
AI Coach Bisnis✅ Ada❌ Tidak ada
Kemudahan untuk Non-Dev✅ Sangat mudah❌ Learning curve curam
Integrasi Git/CI-CD❌ Tidak ada✅ Sangat dalam
Confluence Integration❌ Tidak ada✅ Native
Harga Stabil Rupiah✅ Ya❌ USD
Support Lokal✅ WA + Email Bahasa Indonesia❌ Inggris

Siapa yang Sebaiknya Tetap Pakai Jira?

Jira adalah pilihan yang tepat jika:

  • Tim Anda adalah software development team yang menjalankan Agile/Scrum
  • Anda butuh Sprint planning dan velocity tracking yang detail
  • Developer Anda perlu integrasi langsung dengan GitHub/GitLab/Bitbucket
  • Anda butuh bug tracking yang sangat granular
  • Tim Anda sudah familiar dengan Agile terminologi

Siapa yang Sebaiknya Pilih SuperTim?

SuperTim adalah jawaban yang lebih baik jika:

  • Tim Anda adalah bisnis non-tech: retail, jasa, agensi, konsultan, F&B, dll
  • Anda butuh KPI bisnis yang termonitor — bukan metrics developer
  • Bahasa Indonesia dan konteks bisnis lokal adalah prioritas
  • Anda tidak mau tim Anda bingung dengan jargon teknis
  • Anda ingin budaya kerja yang transparan dengan check-in dan wellbeing tracking
  • Anda adalah software house yang butuh business management layer di atas tools dev yang sudah ada

Studi Kasus: Agensi Periklanan Jakarta Tinggalkan Jira

Sebuah agensi periklanan di Jakarta (18 orang, mix antara creative dan account) mencoba Jira selama 4 bulan atas saran klien tech mereka.

Masalah:

  • Tim creative bingung dengan Sprint dan Story Points — konsep yang tidak relevan untuk produksi iklan
  • Account manager tidak bisa buat laporan ke klien dari Jira — format data terlalu teknis
  • KPI agensi (jumlah kampanye aktif, deadline delivery rate, client renewal rate) sama sekali tidak bisa ditrack di Jira
  • Hanya 3 dari 18 orang yang benar-benar aktif menggunakan Jira

Setelah pindah ke SuperTim:

  • Semua 18 orang aktif dalam 1 minggu pertama
  • KPI per account (jumlah klien aktif, revisi on-time, satisfaction score) terhitung otomatis
  • Manager bisa laporan ke owner setiap minggu tanpa compile manual

Cara Memilih yang Tepat: Framework Sederhana

Jawab 3 pertanyaan ini:

  1. Apakah mayoritas tim Anda adalah developer yang kerja dengan sprint? → Ya: Jira. Tidak: SuperTim.
  2. Apakah Anda butuh tracking KPI bisnis (revenue, klien, satisfaction)? → Ya: SuperTim. Tidak perlu: Jira bisa cukup.
  3. Apakah tim Anda familiar dengan Agile methodology? → Ya: Jira. Tidak: SuperTim (jauh lebih ramah untuk non-tech).

Tools yang tepat akan terasa natural, bukan memaksa. 🚀 Coba SuperTim Gratis — Tanpa Kartu Kredit

FAQ: SuperTim vs Jira

1. Apakah SuperTim cocok untuk software development team?

Untuk layer manajemen bisnis (KPI, goal, tim performance) — ya. Untuk technical tracking (sprint, bug, CI/CD) — tidak. Banyak software house yang menggunakan Jira untuk dev tasks dan SuperTim untuk business management.

2. Jira punya free plan — apakah cukup?

Jira Free tersedia untuk maksimal 10 user dengan fitur terbatas. Fitur penting seperti advanced roadmaps dan audit log hanya di paket berbayar. Untuk tim non-developer, bahkan paket free Jira mungkin terasa terlalu kompleks.

3. Apakah SuperTim punya fitur sprint seperti Jira?

Tidak. SuperTim tidak fokus pada Agile/Scrum methodology. Struktur SuperTim adalah Goal → KPI → Project → Task, yang lebih relevan untuk bisnis umum daripada sprint-based development.

4. Bagaimana jika saya punya tim campuran (developer dan non-developer)?

Solusi terbaik: gunakan Jira khusus untuk developer workflow, dan SuperTim untuk seluruh tim (termasuk developer) di level manajemen bisnis dan KPI. Ini memungkinkan tiap grup punya tools yang sesuai keahlian mereka.

5. Apakah ada integrasi Jira dengan SuperTim?

Belum ada integrasi native saat ini. Keduanya digunakan secara terpisah dengan akses masing-masing.

6. Jira vs SuperTim — mana yang lebih murah untuk startup?

Untuk startup non-tech: SuperTim jauh lebih cost-effective. Untuk startup tech murni: Jira (atau Linear yang lebih modern) adalah investasi yang tepat. Untuk startup hybrid: gunakan keduanya dengan peran berbeda.

7. Mengapa banyak perusahaan non-tech pakai Jira padahal tidak cocok?

Biasanya karena "peer pressure" — klien atau partner tech mereka pakai Jira, lalu mereka ikut. Atau karena Jira terkenal di kalangan enterprise, jadi terasa "aman". Padahal being popular ≠ being the right fit.

8. Apakah SuperTim bisa tracking project yang complex seperti Jira?

Untuk complexity project manajemen bisnis — ya. Untuk complexity teknis (dependency antar code, CI/CD tracking, automated test results) — tidak, itu memang ranah Jira.

Kesimpulan

Jira adalah tools terbaik — untuk tim developer Yang menjalankan Agile. Untuk bisnis Indonesia di luar itu, Jira lebih sering menjadi sumber kebingungan daripada produktivitas.

SuperTim hadir untuk mengisi kebutuhan yang sangat nyata: sistem manajemen tim bisnis yang mudah dipakai, KPI-aware, berbahasa Indonesia, dan harga terjangkau dalam Rupiah.

Jangan pilih tools berdasarkan reputasinya. Pilih berdasarkan relevansinya dengan cara kerja tim Anda hari ini.

Baca Juga:


\n

Suka artikel ini?

Bagikan ke rekan kerja Anda

Ditulis oleh

SuperTim Editor

SuperTim Editor

Product & Productivity Specialist