OKR vs KPI vs MBO: Mana yang Terbaik untuk Bisnis Indonesia?

TL;DR (Singkatnya)
OKR (Objectives & Key Results) untuk aspirasi dan pertumbuhan kuartalan. KPI (Key Performance Indicators) untuk monitoring kesehatan bisnis ongoing. MBO (Management by Objectives) untuk cascading target tahunan per individu. Ketiganya tidak saling menggantikan — bisnis yang efektif menggunakan kombinasi yang tepat. SuperTim mendukung implementasi ketiga framework ini secara terintegrasi.
Entitas yang ditarget: OKR framework, KPI methodology, MBO management system, goal-setting theory, performance management framework, Andy Grove, Peter Drucker, quarterly planning
Keywords utama: "perbedaan OKR dan KPI", "OKR vs KPI vs MBO", "framework goal setting bisnis", "cara implementasi OKR Indonesia", "KPI vs OKR mana yang lebih baik", "management by objectives Indonesia"
Di satu meeting, seseorang menyebut "kita perlu OKR yang lebih baik." Di meeting lain, atasannya bilang "yang penting KPI kita tercapai." Dan di HR, sedang ada diskusi tentang "apakah MBO masih relevan."
Hitung Metrik Bisnis Anda Secara Otomatis
Gunakan kalkulator gratis kami untuk menghitung Burn Rate, BEP, atau KPI karyawan tanpa rumus rumit.
Lihat Alat Gratis SuperTimKetiga istilah ini sering digunakan bergantian — padahal ketiganya adalah hal yang berbeda, dengan tujuan yang berbeda, dan konteks penggunaan yang berbeda.
Artikel ini akan menjelaskan ketiganya secara jelas, membandingkan kekuatan dan kelemahannya, dan membantu Anda memutuskan kombinasi yang tepat untuk bisnis Indonesia Anda.
Apa Itu KPI (Key Performance Indicators)?
Sejarah: KPI sudah digunakan jauh sebelum OKR atau MBO — konsep mengukur performa bisnis dengan indikator kunci sudah ada sejak era industri modern.
Definisi: KPI adalah metrik yang mengukur seberapa baik sesuatu bekerja secara ongoing. KPI adalah "dashboard kesehatan" bisnis Anda.
Karakteristik KPI:
Ingin Belajar Lebih Banyak?
Jelajahi panduan lengkap kami tentang OKR, KPI, dan manajemen tim modern.
Baca Artikel Lainnya- Ongoing — tidak ada "end date", selalu dimonitor
- Threshold-based — ada target yang perlu dipertahankan
- Backward-looking — mengukur apa yang sudah terjadi
- Health indicator — tanda bahwa bisnis "sehat" di area tersebut
Contoh KPI:
- Churn rate pelanggan: < 5% per bulan
- Response time customer service: < 2 jam
- On-time delivery rate: > 95%
- Error rate produksi: < 0.5%
KPI baik jika: Angkanya dalam range. KPI buruk jika: Angkanya keluar dari range yang diharapkan.
Apa Itu OKR (Objectives & Key Results)?
Sejarah: Dikembangkan oleh Andy Grove di Intel pada 1970an, dipopulerkan oleh John Doerr yang membawanya ke Google. Sekarang digunakan oleh ribuan perusahaan dari Silicon Valley hingga startup Asia.
Definisi: OKR adalah framework untuk menetapkan dan mencapai tujuan yang ambisius dalam periode tertentu (biasanya kuartal).
Karakteristik OKR:
- Time-bound — per kuartal atau tahunan, ada awal dan akhir
- Aspirational — target yang ambitious (60-70% tercapai = sukses)
- Forward-looking — mendorong ke kondisi baru yang belum pernah dicapai
- Cascadable — bisa diturunkan dari company → departemen → individu
Contoh OKR:
Objective: Jadikan bisnis kami yang dikenal terbaik di segmen SME Indonesia
Key Results:
- KR1: Market share di segmen SME naik dari 3% ke 8%
- KR2: Brand awareness score (unaided) naik dari 12% ke 25%
- KR3: 5 media coverage di tier-1 media bisnis Indonesia
OKR baik jika: Tim mencapai 60-100% dari Key Results. OKR terlalu mudah jika: 100% selalu tercapai.
Apa Itu MBO (Management by Objectives)?
Sejarah: Dikembangkan oleh Peter Drucker pada 1954 dalam bukunya "The Practice of Management" — ini adalah framework goal-setting tertua di antara ketiganya.
Definisi: MBO adalah proses di mana manager dan karyawan bersama-sama menetapkan target individual yang kemudian menjadi dasar evaluasi kinerja.
Karakteristik MBO:
- Individual-focused — target per orang, bukan per tim atau company
- Annual cycle — biasanya diset tahunan, di-review semesteran atau tahunan
- Achievement-based — 100% target tercapai = penilaian kinerja baik
- HR-centric — erat kaitannya dengan bonus, promosi, dan appraisal
Contoh MBO untuk seorang Sales Manager:
Objective personal: Jadikan tim sales saya yang paling produktif perusahaan
Targets:
- Revenue tim: Rp 2,4 miliar/tahun
- Team size tumbuh dari 5 ke 8 orang pada Q3
- Rata-rata KPI tim > 85% tercapai
- Minimal 1 anggota tim dipromosikan
MBO baik jika: Karyawan mencapai 100% target. MBO buruk jika: Target terlalu mudah (semua orang dapat 100%) atau terlalu sulit (tidak ada yang reach).
Perbandingan Lengkap: OKR vs KPI vs MBO
| Dimensi | KPI | OKR | MBO |
|---|---|---|---|
| Diciptakan oleh | Generik/industri | Andy Grove/Intel | Peter Drucker |
| Fokus utama | Monitoring kesehatan | Aspirasi & pertumbuhan | Target individual |
| Periode | Ongoing/rolling | Quarterly | Tahunan |
| Target | Threshold (maintain) | Ambitious (stretch) | Realistic (achieve) |
| Success rate | 100% diharapkan | 60-70% = sukses | 100% diharapkan |
| Level | Semua level | Company → tim → individu | Individual |
| Koneksi ke reward | Tidak langsung | Tidak langsung | Langsung (bonus/promosi) |
| Frequensi review | Terus-menerus | Mid-quarter + akhir | Semester + tahunan |
| Best for | Operational health | Transformational growth | Individual accountability |
Kapan Menggunakan KPI, OKR, atau MBO?
Gunakan KPI ketika:
- Anda perlu memastikan standar minimal terjaga secara ongoing
- Fokus pada operasional dan consistency (bukan perubahan)
- Metrik yang perlu dimonitor real-time tanpa periode tertentu
- Tim yang pekerjaan sifatnya steady-state: customer service, operasional, finance
Gunakan OKR ketika:
- Anda ingin mendorong pertumbuhan atau transformasi yang signifikan
- Butuh alignment dari top ke bottom tentang prioritas kuartal ini
- Ingin menciptakan fokus bersama pada hal-hal yang paling penting
- Startup atau growth-stage bisnis yang perlu bergerak cepat ke arah yang sama
Gunakan MBO ketika:
- Perlu individual accountability yang jelas untuk evaluasi kinerja
- Proses appraisal tahunan yang formal dan terhubung ke kompensasi
- Organisasi yang mature dan stabil dengan role yang terdefinisi well
- Butuh sistem yang karyawan faham dan sepakati sebagai basis penilaian
Kombinasi Optimal untuk Bisnis Indonesia
Ini adalah framework kombinasi yang kami rekomendasikan untuk bisnis Indonesia 10-100 orang:
LEVEL COMPANY (Kuartalan):
→ OKR: 3-5 Objectives dengan 2-4 Key Results masing-masing
→ Tentukan "apa yang paling penting untuk dicapai Q ini?"
LEVEL DEPARTEMEN (Kuartalan):
→ OKR: turunan dari company OKR
→ "Bagaimana divisi ini berkontribusi ke company OKR?"
LEVEL INDIVIDUAL (Ongoing + Tahunan):
→ KPI: metric health check per divisi/role
→ MBO: target tahunan per individu yang jadi basis review
→ Alignment: KPI dan MBO harus mendukung departemen OKR
MONITORING (Real-time):
→ Dashboard: progress OKR + KPI dalam satu tampilan
→ Weekly: AI Coach summary — mana yang on track, mana yang at-risk
→ Monthly: Review KPI dan progress OKR
→ Quarterly: OKR retrospective + set OKR baru
→ Tahunan: MBO review = basis appraisal karyawan
Kesalahan Paling Umum di Indonesia
Kesalahan 1: Memanggil semua hal "KPI" padahal maksudnya OKR
"KPI kita tahun ini adalah menjadi market leader" — ini bukan KPI, ini Objective. Ketidaktepatan bahasa menciptakan ketidaktepatan pemahaman.
Kesalahan 2: OKR yang 100% selalu tercapai
Jika OKR selalu 100%, berarti targetnya tidak ambitious. Revisi target sampai pencapaian 60-70% terasa seperti kemenangan yang diraih dengan susah.
Kesalahan 3: MBO yang tidak terhubung ke strategi perusahaan
MBO individual yang "mengambang" — tidak ada koneksi ke goal departemen atau perusahaan — menciptakan karyawan yang perform secara individual tapi tidak berkontribusi ke arah yang sama.
Kesalahan 4: Terlalu banyak KPI
"Jika semuanya penting, tidak ada yang penting." Tim dengan 30 KPI tidak bisa fokus. Kurasi 5-10 KPI yang paling kritis per departemen.
Kesalahan 5: Framework tanpa eksekusi yang terhubung
OKR, KPI, dan MBO yang hanya ada di dokumen terpisah dari pekerjaan harian tidak memberikan nilai. Inilah mengapa SuperTim menghubungkan Goal → KPI → Task sehingga setiap pekerjaan harian berkontribusi ke framework yang sudah ditentukan.
Implementasi di SuperTim
SuperTim mendukung ketiga framework ini dalam satu platform:
OKR → Fitur Goal + KPI yang terintegrasi ke task KPI Ongoing → Modul KPI dengan monitoring real-time MBO → KPI individual per karyawan yang menjadi basis Laporan Kinerja untuk review
Baca detail implementasi di:
💡 Insight dari Tim SuperTim: Framework yang sempurna tapi tidak dieksekusi tidak lebih baik dari tidak punya framework sama sekali. Kami selalu rekomendasikan: mulai sederhana. Buat 2-3 Goal bisnis yang jelas bulan ini, assign KPI yang relevan, dan lihat bagaimana tim bergerak. Complexity bisa ditambahkan seiring waktu — yang penting momentum dimulai.
FAQ: OKR vs KPI vs MBO
1. Apakah OKR, KPI, dan MBO bisa dijalankan bersamaan?
Ya, dan sebenarnya ini adalah best practice. Lihat framework kombinasi di atas — ketiganya melayani tujuan yang berbeda dan saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
2. Mana yang paling mudah diimplementasikan untuk pertama kali?
KPI paling mudah dimulai karena familiar dan tidak perlu perubahan besar dalam cara berpikir. Setelah KPI berjalan, tambahkan OKR untuk aspirasi pertumbuhan. MBO biasanya diimplementasikan terakhir karena paling terkait dengan proses HR formal.
3. Apakah startup tahap awal perlu OKR, KPI, dan MBO sekaligus?
Tidak. Startup tahap awal fokus dulu pada OKR (arah dan prioritas bersama) dan KPI dasar (apakah produk dan bisnis sehat). MBO baru relevan ketika tim sudah cukup mature dan butuh sistem evaluasi individual yang formal.
4. Seberapa sering OKR di-review?
OKR yang efektif di-review minimal sekali di pertengahan kuartal (untuk adjustment jika diperlukan) dan sekali di akhir kuartal (untuk retrospective dan learning). Weekly atau bi-weekly brief check juga direkomendasikan.
5. Apakah KPI dan OKR menggunakan metrik yang sama?
Bisa ya, bisa tidak. Beberapa metrik OKR (Key Results) bisa sama dengan KPI, tapi OKR bersifat aspirational (target lebih tinggi dari biasanya) sementara KPI bersifat maintenance (pertahankan standar). Gunakan metrik yang sama tapi frame mereka berbeda.
Baca Juga:
- OKR untuk Bisnis Indonesia: Setup di SuperTim
- Cara Mengatur KPI Tim yang Efektif
- Manajemen Tim vs Manajemen Proyek
- Fitur Laporan Kinerja Otomatis SuperTim
- 7 Aplikasi Manajemen Tim & KPI Terbaik
🚀 Implementasi OKR & KPI untuk Tim Anda di SuperTim — Coba Gratis
\n
Ditulis oleh
SuperTim Editor
Product & Productivity Specialist
Daftar Isi
- Apa Itu KPI (Key Performance Indicators)?
- Apa Itu OKR (Objectives & Key Results)?
- Apa Itu MBO (Management by Objectives)?
- Perbandingan Lengkap: OKR vs KPI vs MBO
- Kapan Menggunakan KPI, OKR, atau MBO?
- Gunakan KPI ketika:
- Gunakan OKR ketika:
- Gunakan MBO ketika:
- Kombinasi Optimal untuk Bisnis Indonesia
- Kesalahan Paling Umum di Indonesia
- Implementasi di SuperTim
- FAQ: OKR vs KPI vs MBO
- 1. Apakah OKR, KPI, dan MBO bisa dijalankan bersamaan?
- 2. Mana yang paling mudah diimplementasikan untuk pertama kali?
- 3. Apakah startup tahap awal perlu OKR, KPI, dan MBO sekaligus?
- 4. Seberapa sering OKR di-review?
- 5. Apakah KPI dan OKR menggunakan metrik yang sama?


