Home/
OKR untuk Bisnis Indonesia: Cara Setup Goal & Key Results di SuperTim (Tanpa Ribet)
Fitur SuperTim24 Februari 20268 min read

OKR untuk Bisnis Indonesia: Cara Setup Goal & Key Results di SuperTim (Tanpa Ribet)

OKR untuk Bisnis Indonesia: Cara Setup Goal & Key Results di SuperTim (Tanpa Ribet)

TL;DR (Singkatnya)

OKR (Objectives & Key Results) adalah framework goal-setting yang menghubungkan tujuan bisnis besar ke metrik terukur. Di SuperTim, OKR diimplementasikan via fitur Goal → KPI yang terintegrasi otomatis ke task harian — sehingga setiap pekerjaan tim berkontribusi langsung ke tujuan bisnis yang lebih besar.

Entitas yang ditarget: OKR (Objectives and Key Results), Goal setting framework, quarterly planning, strategic alignment, Google OKR method, Intel OKR, KPI vs OKR, bisnis growth framework

Keywords utama: "cara buat OKR", "OKR untuk UKM Indonesia", "OKR vs KPI perbedaan", "cara implementasi OKR", "goal setting bisnis Indonesia", "OKR untuk startup", "template OKR Indonesia"


OKR — singkatan dari Objectives and Key Results — adalah framework goal-setting yang dipopulerkan oleh Andy Grove di Intel dan kemudian diadopsi oleh Google, Netflix, Spotify, LinkedIn, dan ribuan perusahaan berkembang pesat di seluruh dunia.

Hitung Metrik Bisnis Anda Secara Otomatis

Gunakan kalkulator gratis kami untuk menghitung Burn Rate, BEP, atau KPI karyawan tanpa rumus rumit.

Lihat Alat Gratis SuperTim

Tapi di Indonesia, OKR masih terasa seperti konsep asing — sesuatu yang hanya relevan untuk perusahaan besar atau startup yang penuh dengan MBA.

Ini salah kaprah yang perlu diluruskan.

OKR adalah framework yang justru paling powerful untuk bisnis skala menengah yang sedang tumbuh — dan di SuperTim, Anda bisa implement OKR dalam 30 menit tanpa perlu konsultan atau workshop berhari-hari.

Apa Itu OKR dan Mengapa Ia Berbeda dari KPI?

Sebelum setup, penting untuk memahami perbedaan OKR dan KPI — banyak bisnis yang mencampuradukkan keduanya dan akhirnya tidak optimal.

KPI: Mengukur Kondisi Kesehatan Bisnis

KPI (Key Performance Indicators) adalah metrik yang mengukur seberapa baik sesuatu bekerja secara ongoing. KPI biasanya maintenance-oriented — memastikan hal-hal penting tetap berjalan dengan baik.

Ingin Belajar Lebih Banyak?

Jelajahi panduan lengkap kami tentang OKR, KPI, dan manajemen tim modern.

Baca Artikel Lainnya

Contoh KPI:

  • Response time customer service: < 4 jam ✅
  • Error rate produksi: < 0.5% ✅
  • Turnover karyawan: < 10% per tahun ✅

OKR: Mendorong Pertumbuhan dan Transformasi

OKR adalah framework yang mendorong perubahan dan pencapaian yang ambisius dalam periode tertentu (biasanya kuartal). OKR aspiration-oriented — mendorong tim menuju level berikutnya.

Formula OKR sederhana:

"Kami ingin [Objective], diukur oleh [Key Result 1], [Key Result 2], [Key Result 3]."

Contoh OKR:

  • Objective: Jadikan tim sales kami mesin pertumbuhan yang konsisten di Q2
    • KR1: Revenue bulanan naik dari Rp 150 juta ke Rp 220 juta
    • KR2: Conversion rate dari proposal ke deal naik dari 20% ke 30%
    • KR3: Rata-rata deal closed dalam 14 hari (dari sebelumnya 21 hari)

Tabel Perbedaan OKR vs KPI

DimensiKPIOKR
TujuanMonitor kondisi ongoingDorong pertumbuhan spesifik
OrientasiHealth checkAspirational achievement
PeriodeOngoing / rollingQuarterly / fixed
TargetRealistic, bisa dicapai rutinAmbitious (60-70% = success)
Jumlah ideal5-15 per tim3 Objective, 2-4 KR per Objective
Di SuperTimModul KPIGoal → KPI terintegrasi

💡 Insight kritis: Di SuperTim, OKR dan KPI tidak dipisahkan — justru Key Results dari OKR Anda menjadi KPI yang otomatis ditrack dari aktivitas task harian. Ini yang membuat SuperTim berbeda dari tools OKR standalone yang terpisah dari eksekusi harian.

Cara Membuat OKR yang Baik: Framework CRAFT

OKR yang buruk lebih berbahaya dari tidak punya OKR sama sekali — karena memberikan false sense of direction. Gunakan framework CRAFT untuk OKR yang efektif:

C — Clear (Jelas) Objective harus bisa dipahami oleh semua orang tanpa penjelasan tambahan.

  • ❌ "Improve business performance"
  • ✅ "Jadikan layanan customer support kami yang terbaik di industri F&B Indonesia"

R — Results-based (Berbasis Hasil) Key Results mengukur output, bukan aktivitas.

  • ❌ "Adakan training customer service setiap bulan" (ini aktivitas)
  • ✅ "NPS customer service naik dari 35 ke 55" (ini hasil)

A — Ambitious (Ambisius) OKR yang terlalu mudah tidak mendorong pertumbuhan. Target 60-70% tercapai sudah dianggap sukses dalam framework OKR.

  • ❌ "Revenue naik 5%" (terlalu mudah jika pertumbuhan normal 8%)
  • ✅ "Revenue naik 40%" (ambisius tapi tidak mustahil)

F — Few (Sedikit) Fokus adalah kekuatan OKR. Terlalu banyak Objective = tidak ada yang benar-benar diprioritaskan.

  • ❌ 10 Objectives dengan 40 Key Results (ini bukan prioritas, ini disaster)
  • ✅ 3 Objectives dengan total 8-12 Key Results per kuartal

T — Time-bound (Berbatas Waktu) Setiap OKR harus punya periode yang jelas.

  • ❌ "Tahun ini kami mau..."
  • ✅ "Q2 2026 (1 April – 30 Juni): kami mau..."

Setup OKR di SuperTim: Step-by-Step

Langkah 1: Buka Modul Goal

Di dashboard SuperTim → menu "Goal" → klik "Tambah Goal Baru"

Langkah 2: Tulis Objective Anda

Field yang diisi:

  • Nama Goal / Objective: "Jadikan tim marketing kami mesin konten yang konsisten Q2 2026"
  • Periode: Q2 2026 (1 Apr – 30 Jun 2026)
  • Owner: Kepala Marketing atau nama spesifik

Langkah 3: Tambahkan Key Results sebagai KPI

Dari halaman Goal → tambah KPI untuk setiap Key Result:

KR1:

  • Nama: "Artikel SEO yang dipublikasikan"
  • Target: 60 artikel (20/bulan)
  • Satuan: Artikel
  • Tipe: Task-based (otomatis dari task completion)

KR2:

  • Nama: "Organic traffic website"
  • Target: 15.000 unique visitors/bulan
  • Satuan: Visitor
  • Tipe: Manual input (dari Google Analytics)

KR3:

  • Nama: "Leads dari konten organik"
  • Target: 50 leads/bulan
  • Satuan: Leads
  • Tipe: Manual input (dari CRM)

Langkah 4: Hubungkan Task ke Key Results

Buat proyek "Konten Marketing Q2" dan set setiap task artikel terhubung ke KR1. Ketika artikel dipublish (task di-Done), KR1 otomatis bertambah.

Langkah 5: Pantau dari Dashboard Goal

Dashboard Goal menampilkan progress setiap Objective dan Key Results-nya — dengan indikator warna (hijau/kuning/merah) dan persentase pencapaian.

Mid-Quarter Check-in (Tengah Kuartal)

Di pertengahan Q2 (akhir April/awal Mei), lakukan review OKR:

  • KR mana yang on track? Yang sudah bisa di-upgrade target-nya?
  • KR mana yang at-risk? Apa yang perlu diubah?
  • Apakah ada external factor yang memengaruhi? Perlu adjust Objective?

OKR yang baik adalah living document — bukan sesuatu yang diset dan dilupakan.

Template OKR per Fungsi Bisnis

OKR untuk Tim Sales

O: Jadikan pipeline sales kami lebih predictable di Q2

  • KR1: Revenue bulanan → Rp 200 juta (dari Rp 140 juta)
  • KR2: Jumlah deals aktif di pipeline → 15 (dari 8)
  • KR3: Conversion rate proposal → 30% (dari 20%)

O: Bangun fondasi layanan klien yang membuat mereka stay lebih lama

  • KR1: Net Promoter Score → 45 (dari 28)
  • KR2: Churn rate bulanan → < 3% (dari 7%)
  • KR3: Upsell rate ke existing clients → 25% (dari 0%)

OKR untuk Tim Operasional

O: Buat proses operasional yang bisa berjalan tanpa owner setiap hari

  • KR1: SOP terdokumentasi → 100% dari proses utama (dari 40%)
  • KR2: Waktu onboarding karyawan baru → < 7 hari (dari 21 hari)
  • KR3: Error operasional yang perlu eskalasi ke owner → < 2/bulan (dari 8/bulan)

OKR untuk Startup Early-Stage

O: Validasi product-market fit sebelum akhir Q2

  • KR1: Pengguna aktif mingguan → 500 (dari 80)
  • KR2: Retention rate 30-day → 40% (dari 15%)
  • KR3: NPS pengguna → 40 (dari tidak ada survey)
  • KR4: Weekly Active Users yang bayar → 50 (dari 5)

OKR untuk UMKM yang Ingin Scaling

O: Persiapkan bisnis untuk buka 2 cabang baru di Q3

  • KR1: SOP semua divisi terdokumentasi dan tested → 100%
  • KR2: Sistem pelatihan karyawan baru → waktu ready-to-work < 14 hari
  • KR3: Dashboard management yang bisa dipantau remote → tersedia dan dipakai
  • KR4: Gross margin → 35% (dari 28%) untuk dukung ekspansi

Kesalahan OKR yang Paling Umum di Bisnis Indonesia

Kesalahan 1: KR yang terlalu mudah Jika semua KR selalu tercapai 100%, Objective Anda tidak cukup ambisius. Target OKR yang healthy: 70-80% adalah sukses, 100% berarti terlalu mudah.

Kesalahan 2: Terlalu banyak Objective Lebih dari 3-4 Objective per kuartal = tidak ada prioritas nyata. Pilih yang paling penting.

Kesalahan 3: KR yang mengukur aktivitas, bukan hasil "Adakan 10 workshop" ≠ Key Result. "90% karyawan lulus sertifikasi produk" ✅.

Kesalahan 4: OKR yang tidak dikomunikasikan ke tim OKR yang hanya ada di kepala owner tidak menghasilkan alignment. Tim yang tahu mengapa mereka mengerjakan tugas X berkontribusi ke goal bisnis Y akan jauh lebih termotivasi.

Kesalahan 5: Tidak ada mid-quarter review OKR yang diset di awal kuartal dan baru dilihat di akhir sudah terlambat untuk diperbaiki. Set reminder check-in di pertengahan kuartal.

FAQ: OKR dan Fitur Goal SuperTim

1. Apakah SuperTim menggunakan terminologi OKR secara resmi?

SuperTim menggunakan terminologi "Goal" (untuk Objective) dan "KPI" (untuk Key Results) — ini lebih familiar untuk bisnis Indonesia. Konsepnya identik dengan OKR, hanya menggunakan bahasa yang lebih lokal dan tidak membebani dengan jargon asing.

2. Berapa banyak Goal yang idealnya dibuat per kuartal?

Kami rekomendasikan maksimal 3-5 Goal per organisasi per kuartal. Lebih dari itu, fokus menjadi tidak tajam dan tim akan kesulitan memprioritaskan pekerjaan mereka.

3. Apakah OKR harus dibuat per individu atau per tim?

Keduanya bisa. Di SuperTim, Anda bisa buat Goal di level organisasi (semua orang berkontribusi), level departemen (tim tertentu), atau level individu (karyawan spesifik). Hierarchy ini membantu alignment dari top ke bottom.

4. Apakah bisa jalankan OKR dan KPI operational bersamaan?

Ya, justru ini yang ideal. OKR untuk aspirasi dan pertumbuhan, KPI operasional untuk monitoring kesehatan bisnis ongoing. Di SuperTim, keduanya bisa berjalan bersamaan di dashboard yang sama.

5. Bagaimana jika Objective sudah tidak relevan di tengah kuartal?

OKR boleh di-adjust di mid-quarter jika ada perubahan kondisi bisnis yang signifikan (misalnya: market shock, pivot estrategi). Yang penting adalah mendokumentasikan mengapa di-adjust — bukan menghapus begitu saja.

Baca Juga:

🚀 Setup OKR Pertama Tim Anda — Coba SuperTim Gratis


\n

Suka artikel ini?

Bagikan ke rekan kerja Anda

Ditulis oleh

SuperTim Editor

SuperTim Editor

Product & Productivity Specialist