Quiet Quitting
Arti Quiet Quitting di dunia kerja, penyebabnya, dan bahayanya bagi kelangsungan bisnis.
Apa itu Quiet Quitting?
Berlawanan dengan namanya, Quiet Quitting (berhenti secara diam-diam) tidak berarti seorang karyawan benar-benar resign atau mengundurkan diri dari perusahaannya.
Istilah yang meledak dan viral di TikTok pada tahun 2022-2023 ini merujuk pada fenomena di mana karyawan hanya melakukan pekerjaan sesuai dengan deskripsi pekerjaannya saja (job desc minimal), tanpa bersedia memberikan usaha ekstra (going the extra mile).
Ciri-Ciri Karyawan yang Melakukan Quiet Quitting
Karyawan yang terjangkit fenomena ini biasanya masih masuk kantor dan bekerja, namun dengan batas toleransi yang sangat ketat:
- Tidak mau lembur: Mereka akan menutup laptop tepat pada jam pulang kerja (tenggo).
- Menolak tugas tambahan: Jika sebuah pekerjaan tidak tertulis secara harfiah di kontrak kerja, mereka tidak mau melakukannya.
- Membisu di rapat: Tidak lagi proaktif memberikan ide-ide baru atau inisiatif di luar kewajiban dasar mereka.
- Tidak peduli dengan promosi: Menolak tawaran naik jabatan jika itu berarti tanggung jawabnya akan jauh lebih besar dibandingkan kenaikan gajinya.
Apa Penyebab Quiet Quitting?
Fenomena ini adalah bentuk perlawanan diam-diam (silent protest) dari generasi Milenial dan Gen Z terhadap budaya hustle culture (kerja berlebihan yang merusak kesehatan mental). Penyebab utamanya adalah:
- Burnout berkepanjangan: Karyawan lelah karena sering disuruh bekerja di luar jam tanpa dibayar (unpaid overtime).
- Gaji yang Stagnan: Merasa usaha keras (lembur tiap hari) di masa lalu tidak dihargai atau dikompensasi secara layak oleh perusahaan.
- Kurangnya Apresiasi: Manajer yang hobi melakukan micromanagement tanpa pernah memberikan validasi atau pujian (Kudos).
Bahaya bagi Perusahaan (HRD)
Jika dibiarkan, wabah quiet quitting dapat menurunkan produktivitas perusahaan secara drastis. Inovasi akan mati karena tidak ada karyawan yang mau berpikir out of the box.
Untuk mencegah hal ini, HRD harus secara rutin mengecek suhu dan mood tim. Menyediakan jam kerja yang manusiawi, menghitung upah lembur secara transparan, serta memberikan target KPI yang adil adalah kunci utama menumpas quiet quitting.
Ingin mengecek tingkat kelelahan dan kebahagiaan karyawan Anda? Gunakan alat ukur gratis seperti Kuis Burnout dan pastikan Anda rutin memberikan apresiasi tertulis lewat Generator Kudos dari SuperTim.
🚀 Capek Pantau Target Kerja Tim Secara Manual?
SuperTim menyelaraskan KPI, tugas, dan target tim Anda secara instan menggunakan asisten AI Coach. Tinggalkan cara lama yang tidak efisien.
Coba SuperTim Gratis Sekarang